Minggu, 08 November 2009

Matematika di Raudhatul Athfal/Taman Kanak-kanak

Matematika di RA/TK
PENDAHULUAN

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Q.S. Al Baqarah 2: 164)
Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa dalam segala apa yang diciptakan oleh Allah swt. terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran-Nya bagi orang-orang yang mau berpikir. Dengan kata lain, Allah memerintahkan kita untuk memikirkan berbagai macam fenomena alam semesta. Tentang makna ayat tersebut, Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran menyatakan bahwa sekiranya manusia hatinya membeku karena tidak mau memperhatikan fenomena alam ini, lalu hatinya berubah dan mau memperhatikan fenomena alam ini dengan
perasaan yang baru dan pandangan yang penuh penyelidikan seperti seseorang yang baru saja mengunjungi alam ini, memperhatikan dengan sungguh-sungguh tiap gerak dan gemerisiknya suara, tentulah akan tergetar jiwanya dan terbukalah baginya segala keajaiban yang menyelubungi alam semesta ini. Untuk memahami berbagai tanda kebesaran Allah dalam fenomena alam semesta, tentu diperlukan adanya ilmu dan pengetahuan.
Salah satu ilmu pengetahuan yang dapat dipakai untuk memahami berbagai tanda kebesaran Allah SWT itu adalah matematika. Contoh sederhana dari aplikasi ilmu matematika dalam kehidupan kita adalah kita bisa menentukan arah kiblat ketika sholat, menghitung rakaat dalam sholat, para guru bisa memperkirakan berapa menit waktu yang tepat untuk melaksanakan suatu kegiatan di sekolah dan anak kita bisa memperkirakan kue yang akan dipilihnya, mana yang paling besar atau mana yang lebih banyak.

Matematika merupakan bagian dari aspek pengembangan kognitif yang diajarkan di Raudhatul Athfal. Fenomena yang terjadi saat ini di dunia pendidikan pra sekolah adalah adanya kesadaran dari para orang tua siswa akan pentingnya kemampuan menghitung yang merupakan bagian dari kemampuan calistung bagi anaknya sebagai persiapan masuk ke jenjang pendidikan berikutnya. Dan kesadaran tersebut melahirkan tuntutan agar anaknya diberi pelajaran matematika sejak dini. Perlu kearifan dari para guru di Raudhatul Athfal untuk memenuhi tuntutan tersebut sehingga keinginan para orang tua dapat tersalurkan tanpa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.
Atas dasar pemikiran tersebut maka dalam makalah ini dicoba disusun bagaimana mengenalkan matematika melalui bermain sehingga diharapkan anak dapat berkenalan lebih dini dengan matematika dengan cara yang menyenangkan.


KONSEP PENGENALAN MATEMATIKA PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH

Usia pra sekolah merupakan usia efektif untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak-anak. Salah satu cara mengembangkan potensi yang dimiliki anak adalah dengan melalui permainan matematika. Karena pembelajaran di Raudhatul Athfal dilaksanakan melalui pendekatan integrated learning atau pembelajaran terpadu maka pengenalan matematika ini diharapkan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif saja, tetapi juga dapat mengembangkan berbagai aspek pengembangan lainnya seperti aspek sosial, emosional, berbahasa, sain, motorik dan seninya dan yang terutama dapat mengenalkan anak dengan kebesaran Allah SWT.
Menurut Burn dalam Anggani Sudono (1995) yang menguraikan pendapatnya berdasarkan pada teori Piaget menunjukkan bagaimana konsep matematika terbentuk pada anak. Burns mengatakan bahwa semua kelompok matematika sudah dapat diperkenalkan mulai dari usia empat tahun. Kelompok tersebut adalah bilangan (aritmatika, berhitung), pola dan fungsinya, geometri, ukuran, grafik, estimasi, probabilitas dan pemecahan masalah. Dikatakan juga bahwa penguasaan masing-masing kelompok tersebut melalui tiga tingkat penekanan yang harus menjadi pegangan guru, yaitu:
1. Tingkat pemahaman konsep. Anak akan memahani konsep melalui pengalaman bekerja/bermain dengan benda konkrit. Tidak ada simbol atau lambang bilangan yang diperkenalkan pada saat-saat itu. Penting sekali diingat bahwa anak memperoleh berbagai pengalaman dengan menggunakan berbagai cara dengan media yang konkrit.
2. Tingkat menghubungkan konsep konkrit dengan lambang bilangan. Setelah konsep itu benar-benar dikuasai oleh anak, baru guru mengenalkan lambang konsep. Gurulah yang menghubungkan konsep konkrit tersebut dengan lambang bilangan dari konkrit ke abstrak. Peran guru sangat menentukan
3. Tingkat lambang bilangan. Anak sendirilah yang akan menulis lambang bilangan yang mewakili yang telah mereka kuasai. Anak diperkenankan menggunakan alat konkrit sampai mereka melepaskannya sendiri.
Tahapan penguasaan matematika ini perlu dipahami oleh guru karena tingkatan penguasaan ini sangat membantu anak dalam memahami matematika sehingga dapat mencegah terjadinya matematika phobia atau ketakutan terhadap matematika yang dapat menghambat perkembangan anak selanjutnya. Proses pembelajaran yang menyenangkan membuat anak memiliki antusias untuk mempelajari pengetahuan baru sehingga dapat semakin mengembangkan potensinya sebagaimana yang dikatakan Hurlock (1997) bahwa lima tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan peletak dasar bagi perkembangan selanjutnya. Anak yang mengalami masa bahagia berarti terpenuhinya segala kebutuhan baik fisik maupun psikis di awal perkembangannya diramalkan akan dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan selanjutnya.
Sejalan dengan teori yang disebutkan maka proses pembelajaran matematika seyogyanya dapat memenuhi prinsip-prinsip berikut:
1. Matematika diberikan secara bertahap diawali dengan pengenalan konsep yang melibatkan benda-benda konkrit sebagai medianya.
2. Pengetahuan dan keterampilan matematika diberikan secara bertahap menurut tingkat kesukarannya, dari mudah ke sukar, dari konkrit ke abstrak dari yang sederhana ke yang lebih komplek.
3. Pembelajaran matematika akan lebih berhasil apabila diberikan dengan cara bermain dan mengalami secara langsung dimana anak diberi kesempatan untuk berpartisipasi dan dirangsang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
4. Pembelajaran matematika membutuhkan suasana menyenangkan dan memberikan rasa aman serta kebebasan bagi anak. Untuk itu dibutuhkan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, menarik, mudah digunakan dan tidak membahayakan
5. Bahasa yang digunakan merupakan bahasa yang mudah dipahami anak dan dapat menstimulus anak untuk ambil bagian dalam kegiatan matematika.
6. Proses penilaian dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya melihat aspek kognitifnya saja tetapi menilai juga aspek-aspek lainnya. Penilaian yang dilaksanakan juga harus bermakna atau memiliki nilai lebih bukan hanya untuk mendapatkan nilai atas perkembangan anak akan tetapi juga dapat mengevaluasi proses pembelajaran itu sendiri, metode serta media yang dipergunakan sehingga dari sana dapat menentukan proses pembelajaran yang tepat untuk anak.
Agar prinsip-prinsip tersebut dapat terlaksana ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh guru, sebagaimana disarikan dari journalnya Diane Parker dan Anthoni J. Picard (1997)
 trying to develop a mathematics curriculum centered on complex problems based on the everyday life of the classroom
Mencoba mengembangkan kurikulum yang terpusat pada problem komplek berdasarkan kehidupan sehari-hari di kelas.
 select tasks that will be interesting, meaningful, and accessible to students and that will afford them opportunities for collaboration, diverse procedures and solutions, and extended mathematical explorations.
Memilih tugas/kegiatan-kegiatan yang menarik, penuh makna dan dapat diterima oleh para siswa dan yang akan memberikan kepada mereka kesempatan untuk bekerjasama, menerapkan prosedur dan pemecahan masalah yang berbeda-beda dan memperluas penjelajahan matematika
 tries to create a classroom environment that will motivate students and encourage their personal explorations
berupaya menciptakan lingkungan kelas yang akan memotivasi siswa dan mendorong penjelajahannya
 Giving the student the time and the opportunity to reflect on their conclusions.
Memberikan siswa waktu dan kesempatan untuk menunjukkan kesimpulannya
 Use multiple means of assessment methods
Menggunakan penilaian yang kaya makna. Menilai siswa bukan hanya berdasarkan hasil tetapi juga proses yang dilakukan.


BERMAIN MATEMATIKA DI RAUDHATUL ATHFAL

A. Matematika di Raudhatul Athfal
Anak usia dini, termasuk anak RA memiliki karakteristik perkembangan fisik dan psikologis yang khas. Secara teoritis dikatakan bahwa pada usia tersebut merupakan masa peka dimana anak memiliki kemampuan untuk menerima berbagai stimulus yang diberikan oleh lingkungannya baik disengaja ataupun tidak disengaja. Selain itu masa usia dini merupakan pondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.
Pertumbuhan dan perkembangan akan tercapai secara optimal apabila diciptakan situasi dan kondisi yang kondusif sesuai dengan kebutuhan anak yang berbeda satu sama lainnya sehingga pelayanan yang diberikan kepada anak harus berdasarkan keberagaman yang dimiliki oleh anak berdasarkan kemampuan, latar belakang sosial, budaya, agama sehingga idealnya pengembangan anak usia pra sekolah berorientasi pada pendekatan yang berpusat pada anak.
Matematika di RA masuk ke dalam pengembangan kemampuan dasar kognitif yang cakupan pembelajarannya sebagaimana tercantum dalam standar isi KTSP Depdiknas (2007) adalah mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD dan MI dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berlogika melalui pra berhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati, tidak memaksa, dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar. Berikut ini diuraikan standar kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar serta indikator yang diharapkan dicapai oleh anak sebagaimana tercantum dalam standar isi KTSP Depdiknas (2007).
Standar kompetensi yang diharapkan dicapai adalah anak mampu mengenal dan memahami berbagai konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari dan dapat memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Kompetensi dasar yang dharapkan dicapai oleh anak adalah anak mampu mengenal berbagai konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil belajar dan indikator yang diharapkan dicapai oleh anak kelompok A (usia 4-5 tahun) sebagaimana diuraikan dalam table berikut ini adalah:
HASIL BELAJAR INDIKATOR
Mengenal klasifikasi sederhana • Mengelompokkan benda dengan berbagai cara yang diketahui anak. Misalnya: menurut warna, bentuk, ukuran, jenis, dll.
Dapat mengenal bilangan • Membilang/menyebut urutan bilangan dari 1 sampai 10
• Membilang dengan menunjuk benda (mengenal konsep bilangan dengan benda-benda sampai 5)
• Menunjukkan urutan benda untuk bilangan sampai 5
• Mengenal konsep banyak-sedikit, lebih – kurang, sama – tidak sama
• Menghubungkan / memasangkan lambang bilangan dengan benda-benda sampai 5 (anak tidak disuruh menulis)
• Menunjuk 2 kumpulan benda yang sama jumlahnya, yang tidak sama, lebih banyak dan lebih sedikit
• Menyebutkan hasil penambahan (menggabungkan 2 kumpulan benda) dan pengurangan (memisahkan kumpulan benda) dengan benda sampai 5
Dapat mengenal bentuk geometri • Mengelompokkan bentuk-bentuk geometri (lingkaran, segitiga, segiempat)
• Menyebutkan benda-benda yang menunjukkan bentuk-bentuk geometri
• Menyebutkan bentuk benda-benda yang baru dilihatnya
Dapat memecahkan masalah sederhana • Mengerjakan maze (mencari jejak) yang sederhana
• Menyusun kepingan puzzle menjadi bentuk utuh (4-6 keping)
• Memasang benda sesuai dengan pasangannya
Dapat mengenal ukuran • Membedakan konsep panjang – pendek, jauh – dekat melalui mengukur dengan langkah, jengkal, benang atau tali
• Membedakan konsep berat – ringan, gemuk – kurus melalui menimbnag benda dengan timbangan buatan dan sebenarnya
Dapat mengenal konsep waktu • Menyebutkan jumlah hari dalam satu minggu dan satu bulan, jumlah bulan dalam satu tahun
Dapat mengenal berbagai pola • Memperkirakan urutan berikutnya setelah melihat bentuk atau warna 2 pola yang berurutan. Misalnya merah, putih, merah, putih, merah, ..
• Meniru pola dengan menggunakan empat kubus

Hasil belajar dan indikator yang diharapkan dicapai oleh anak kelompok B (usia 5-6 tahun) sebagaimana diuraikan dalam table berikut ini adalah:
HASIL BELAJAR INDIKATOR
Dapat mengenal klasifikasi sederhana • Mengelompokkan benda dengan berbagai cara yang diketahui anak. Misalnya: menurut warna, bentuk, ukuran, jenis, dll.
Dapat mengenal bilangan • Membilang/menyebut urutan bilangan dari 1 sampai 20
• Membilang dengan menunjuk benda (mengenal konsep bilangan dengan benda-benda sampai 10)
• Membedakan konsep banyak-sedikit, lebih – kurang, sama – tidak sama
• Menghubungkan / memasangkan lambang bilangan dengan benda-benda sampai 10 (anak tidak disuruh menulis)
• Menunjukkan jumlah yang sama - tidak sama, lebih banyak dan lebih sedikit dari 2 kumpulan benda
• Menyebutkan hasil penambahan (menggabungkan 2 kumpulan benda) dan pengurangan (memisahkan kumpulan benda) dengan benda sampai 10
Dapat mengenal bentuk geometri • Mengelompokkan bentuk-bentuk geometri (lingkaran, segitiga, segiempat)
• Membedakan benda-benda yang berbentuk geometri
Dapat memecahkan masalah sederhana • Mengerjakan maze (mencari jejak) yang sederhana
• Menyusun kepingan puzzle menjadi bentuk utuh (7 – 10 keping)
• Memasang benda sesuai dengan pasangannya
Dapat memahami konsep ukuran • Membedakan konsep: panjang – pendek, tinggi – rendah, jauh – dekat, lebar/luas – sempit, melalui mengukur dengan langkah, jengkal, benang atau tali dan pengukur sebenarnya
• Membedakan konsep berat – ringan, gemuk – kurus melalui menimbnag benda dengan timbangan buatan dan sebenarnya
• Membedakan konsep tebal – tipis, besar – kecil, cepat – lambat
• Membedakan konsep penuh – kosong dengan cara mengisi wadah dengan air, pasir, biji-bijian, dll
Dapat memahami konsep waktu • Menyatakan waktu yang dikaitkan dengan jam
• Mengetahui jumlah hari dalam satu minggu, satu bulan, dan mengetahui jumlah bulan dalam satu tahun
• Menggunakan konsep waktu (misalnya: hari ini, nanti, sekarang, kemarin, besok)
• Menceritakan kegiatan sehari-hari sesuai dengan waktu (misalnya: waktu tidur, waktu makan, waktu bermain-main)
Dapat mengenal berbagai pola • Memperkirakan urutan berikutnya setelah melihat bentuk atau warna 3-4 pola yang berurutan. Misalnya: merah, kuning, merah, putih,kuning merah, …….
• Meniru pola dengan menggunakan 4 - 8 kubus
• Meniru pola dengan berbagai benda

Prinsip-prinsip yang berlaku dalam pelaksanaan kegiatan/pembelajaran matematika di Raudhatul Athfal sama dengan prinsip-prinsip dasar dalam pembelajaran yang berlaku di Raudhatul Athfal, meliputi:
1. Berorientasi pada perkembangan anak
2. Berorientasi pada kebutuhan anak
3. Bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain
4. Stimulasi terpadu
5. Lingkungan kondusif
6. Menggunakan pndekatan tematik
7. Aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan
8. Menggunakan berbagai media dan sumber belajar
9. Mengembangkan kecakapan hidup
10. Pemanfaatan teknologi informasi
11. Pembelajaran bersifat demokratis



B. Perencanaan Kegiatan Bermain Matematika di Raudhatul Athfal
Program bermain bagi anak usia pra sekolah perlu dirancang secara teratur dan sistematis. Oleh karena itu sebelum suatu kegiatan bermain dilaksanakan maka perlu disusun suatu bentuk perencanaan. Penyusunan perencanaan kegiatan akan membantu pendidik dalam mengarahkan dan mengoptimalkan kegiatan bermain anak sehingga memperoleh hasil perkembangan yang optimal.
Dengan perencanaan kegiatan bermain, pendidik dapat menyusun dan mengatur serta memperkirakan kemampuan dasar anak sebagai tujuan yang akan dicapai, bentuk dan langkah kegiatan bermain termasuk di dalamnya pemilihan dan penggunaan metode, materi dan media permainan yang sesuai, serta bentuk dan kegiatan penilaian yang akan dilakukan, baik terhadap prose kegiatan bermain maupun terhadap perkembangan anak (Depdiknas, 2005).
Perencanaan kegiatan bermain anak melewati beberapa tahap, yaitu:
1. Pemilihan dan Penjabaran Tema
a. Pemilihan tema
Untuk pelaksanaan kegiatan bermain agar lebih bermakna dilakukan melalui pembahasan tema. Untuk memilih tema, perlu memperhatikan lingkungan anak yang diambil mulai dari lingkungan terdekat anak. Tema dapat dipilih oleh guru disesuaikan dengan minat dan kebutuhan anak.
b. Penjabaran tema
Tema dikembangkan lebih lanjut oleh guru menjadi program kegiatan bermain anak. Tema perlu dijabarkan ke dalam sub-sub tema agar pembahasan tidak terlalu luas.
2. Memilih kegiatan-kegiatan bermain yang sesuai dengan tema yang terpilih
Kegiatan bermain yang dipilih disesuaikan dengan tema dan dilakukan untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak.
3. Mempersiapkan lingkungan bermain yang sesuai dengan kegiatan bermain
Guru perlu membuat rencana persiapan penataan lingkungan bermain anak. Dengan penataan lingkungan main akan didapatkan tempat yang sesuai dengan kegiatan bermain yang dipilih serta anak akan mendapatkan kesempatan memilih permainan yang disukainya.
4. Membuat administrasi kegiatan bermain
Dalam hal ini dikenal beberapa tahap yaitu perencanaan tahunan, perencanaan mingguan dan perencanaan harian

a. Perencanaan Tahunan
Dalam satu tahun ditentukan dan disusun aspek perkembangan yang diharapkan dicapai dan program stimulasi perkembangannya. Disamping itu dipilih juga tema-tema yang dekat dan sesuai dengan minat anak. Dari rencana satu tahun ini dibagi menjadi dua bagian sehingga didapatkan perencanaan dua semesteran
b. Perencanaan Mingguan
Pada perencanaan mingguan, guru diharapkan menyusun kegiatan mingguan dalam rangka mencapai indikator-indikator yang telah direncanakan dalam satu minggu sesuai dengan pembahasan tema dan sub tema yang telah direncanakan pada program semester
c. Perencanaan Harian
Perencanaan harian ini merupakan penjabaran dari perencanaan mingguan yang di dalamnya tercantum kemampuan yang akan dicapai anak, jenis kegiatan yang diberikan kepada anak, media dan sumber belajar serta penilaian perkembangan anak.
Perencanaan harian ini terdiri dari kegiatan pembukaan, inti, istirahat dan kegiatan penutup.

C. Kegiatan Bermain Matematika di Raudhatul Athfal
Kegiatan bermain matematika di Raudhatul Athfal dapat dilaksanakan baik melalui kegiatan terpadu bersama dengan kegiatan aspek pengembangan lainnya, maupun dilaksanakan secara khusus. Penempatan kegiatannya dapat dilaksanakan di saat kegiatan pembuka, inti ataupun penutup.
Di bagian ini akan diuraikan pula beberapa kegiatan permainan di Raudhatul Athfal berdasarkan hasil belajar dan indikator yang diharapkan dicapai oleh anak didik, yaitu:
1. Kegiatan : “ Dimana mereka tinggal?”
Kelompok : A
Tema : Binatang
Hasil Belajar : Dapat mengenal klasifikasi sederhana
Dapat mengenal lambang bilangan
Indikator : - Mengelompokkan benda dengan berbagai cara yang
diketahui anak menurut jenisnya
- Membilang dengan menunjuk benda (mengenal
konsep bilangan dengan benda-benda sampai 10)
Media : - selembar kertas bergambar hutan
- 10 lembar kertas bergambar binatang hutan
- Selembar kertas bergambar kolam
- 10 lembar kertas bergambar binatang yang hidup di air dan sekitar kolam
- Selembar kertas bergambar langit dan awan
- 10 lembar kertas bergambar binatang yang biasa hidup di udara
Langkah-langkah kegiatan:
- Pertama guru bercerita tentang binatang-binatang dan tempat mereka hidup
- Anak diberi media yang disediakan dan diberi tugas untuk membilang dan memasangkan gambar sesuai jumlah bilangan yang ditentukan oleh guru
- Anak diberi kebebasan untuk berimajinasi dengan gambar yang ada dan membilang sesuai dengan keinginannya

2. Kegiatan : Membilang jagung “ Membuat jagung bledug yuk..!”
Kelompok : B
Tema : Kebutuhanku (Sub tema : makanan)
Indikator : Menghubungkan / memasangkan lambang bilangan dengan
benda-benda sampai 5 (anak tidak disuruh menulis)
Media : - mangkuk bekas es krim
- Biji jagung pop corn
- Beberapa lembar kertas bertuliskan angka 1 - 5
Langkah-langkah kegiatan:
- Sediakan beberapa mangkuk bekas es krim dan beberapa kertas bertuliskan angka 1-5
- Anak dibimbing untuk memilih angka yang disukainya, kemudian memasukkan biji jagung ke dalam mangkuk sesuai dengan angka yang dipilihnya
- Memasukkan biji jagung yang telah dihitung (diperiksa guru sesuai atau tidaknya jumlah jagung dan angka yang dipilihnya) ke dalam wajan .
- Makan popcorn bersama

3. Kegiatan : Bermain maze “Di mana ikan asin kesukaan meong”
Kelompok : A
Tema : Keluargaku (sub tema: binatang kesayangan keluarga)
Hasil belajar : Dapat memecahkan masalah sederhana
Indikator : Mengerjakan maze (mencari jejak) yang sederhana
Media : - Gambar maze
- Cap kaki kucing terbuat dari wortel/umbi yang diukir
membentuk telapak kaki kucing
- Bak stempel (bisa terbuat dari kapas yang diberi pewarna
dan disimpan dalam cup bekas es krim)
Langkah-langkah kegiatan:
- Guru bercerita tentang kucing kesayangan yang merasa lapar
- Anak diberi tugas mengerjakan maze, menelusuri jalan yang bisa menemukan kucing dengan ikan asin kesukaannya
- Jalan yang ada pada maze ditelusuri dengan cap kaki kucing

4. Kegiatan : Bermain kombinasi angka dengan angka 5
Kelompok : B
Tema : Kebutuhanku (sub tema: minuman)
Hasil belajar : Dapat mengenal lambang bilangan
Indikator : Menyebutkan hasil penambahan (menggabungkan 2
kumpulan benda)
Media : - Gambar rak
- Gambar botol minuman
- Angka 1 - 4
Langkah-langkah kegiatan:
- Guru bercerita tentang botol minuman yang akan disusun dalam rak
- Anak diberi tugas memindahkan gambar botol minuman dari kotak ke dalam gambar 2 buah rak
- Anak bermain kombinasi jumlah botol minuman yang disimpan ke dalam rak dengan berbagai kombinasi

5. Kegiatan : Membuat tirai “Waah ternyata sampahpun berguna”
Kelompok : A
Tema : Kebersihan
Hasil belajar : Dapat mengenal berbagai pola
Indikator : Memperkirakan urutan berikutnya setelah melihat bentuk
atau warna 2 pola yang berurutan.
Media : - pelepah pisang kering dibentuk menjadi segi empat dan
lingkaran
- lem
- tali rapia/tali dari pelepah pisang
Langkah-langkah kegiatan:
- Guru bercerita tentang sampah yang berguna
- Anak diberi tugas untuk menempelkan potongan pelepah pisang sesuai dengan pola pada tali yang disediakan

6. Kegiatan : Menyanyi dan bermain peran “Naik kereta”
Kelompok : B
Tema : Kendaraan
Hasil belajar : Dapat mengenal bilangan
Indikator : Menyebutkan hasil pengurangan (memisahkan kumpulan
benda) dengan benda sampai 5
Media/sumber : - kursi yang dijejerkan diimajinasikan sebagai kereta
- Anak berperan sebagai penumpang
Langkah-langkah kegiatan:
- Beberapa anak duduk di kursi yang diimajinasikan sebagai kereta
- Beberapa anak naik dan turun disesuaikan dengan lagu yang dinyanyikan
- Menyanyikan lagu “anak naik kereta’
Lagu;
Lima anak naik kereta
dua anak turun di stasiun
berapa anak dalam kereta?
tiga anak dalam kereta
tiga anak dalam kereta
satu anak turun di stasiun
berapa anak dalam kereta?
dua anak dalam kereta…dst

D. Penilaian
Sebagaimana yang dipaparkan dalam pedoman pendidikan anak usia dini khususnya Raudhatul Athfal (2007) bahwa penilaian dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui pengamatan dan pencatatan anekdot. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan sikap anak yang dilakukan dengan mengamati tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari secara terus menerus, sedangkan pencatatan anekdot merupakan catatan kemampuan tentang sikap dan perilaku anak dalam situasi tertentu.
Berbagai alat penilaian yang dapat digunakan untuk memperoleh gambaran perkembangan kemampuan dan perilaku anak antara lain:
1. Portofolio, yaitu penilaian berdasarkan kumpulan hasil karya anak yang dapat menggambarkan sejauhmana keterampilan anak berkembang
2. Unjuk kerja, (Peformance) merupakan penilaian yang menuntut anak untuk melakukan tugas dalam perbuatan yang diamati, misalnya praktek membilang, menyanyi, memperagakan sesuatu, dll.
3. Penugasan (Project) merupakan sesuatu yang harus dikerjakan anak yang memerlukan waktu yang relative lama dalam pengerjaannya, misalnya melakukan percobaan
4. Hasil karya (Product) merupakan hasil kerja anak setelah melakukan suatu kegiatan.


KESIMPULAN

Anak usia dini yang dibekali Allah SWT dengan berbagai potensi akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya apabila diberi stimulus yang tepat dan menyenangkan.
Pembelajaran matematika yang tepat, menyenangkan dan mendorong anak untuk melakukan penjelajahan, berkreasi dan memenuhi rasa ingin tahunya akan memberikan banyak kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan aspek kognitif dan pengetahuan matematisnya secara sehat.
Untuk mencapai itu semua dibutuhkan pemahaman guru terhadap berbagai kegiatan yang dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak serta keterampilan dalam merencanakan kegiatan yang akan dilaksanakakan, sebagaimana yang dipaparkan Dianne Miller Nielsen (2008) bahwa permainan yang terencana, bertujuan, dan produktif merupakan bagian penting dari lingkungan pembelajaran anak usia dini. Anak-anak harus menyelidiki, melakukan percobaan, dan membuat penemuan bagi diri mereka sendiri melalui interaksi menyenangkan dengan lingkungan dan orang lain untuk mempertajam kepekaan pada dunia mereka.
Dengan mengetahui apa yang dibutuhkan anak, memahami pertumbuhan dan perkembangannya serta memiliki keterampilan untuk menyelenggarakan kegiatan matematika yang bervariasi dan menyenangkan akan membuat anak menyenangi kegiatan yang diselenggarakan di sekolah dan menghindarkan anak dari phobi terhadap matematika.







DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2005. Perencanaan Kegiatan Bermain Anak. Depdiknas. Jakarta
Depdiknas. 2007. Standar Isi aKurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (Taman Kanak-kanak). Depdiknas. Jakarta
Depdiknas. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Standar Kompetensi Taman Kanak-kanak. Depdiknas. Jakarta
Hurlock, Elizabeth B. 1997. Perkembangan Anak Jilid 1. Erlangga. jakarta
Nielsen, Dianne Miller. 2008. Mengelola Kelas Untuk Guru TK. PT INDEKS. Jakarta
Parker, Diane L., and Anthony J. Picard. 1997. "Portraits of Susie: matching curriculum, instruction, and assessment. " Teaching Children Mathematics. 3.n7 (March 1997): 376(7). InfoTrac Humanities & Education Collection. Gale. Universitas Islam Nusantara.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat. 2007. Pedoman Pendidikan Anak Usia Dini khususnya Raudhatul Athfal di Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bandung
Sudono, Anggani. 1995. Alat Permainan dan Sumber Belajar TK. Depdikbud. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar